Resensi Novel Rindu Tere Liya


Resensi Novel Rindu
Tere Liye


Judul Novel  : Rindu
Penulis         : Tere Liye
Editor            : Andriyati
Cover            : EMTE
Lay out         : Alfian
Penerbit        : Republika 2014
Halaman       : 544 hal
ISBN             : 978-602-8997-90-4



Blurb

“Apalah arti memiliki, ketika diri kami sendiri bukanlah milik kami?
Apalah arti kehilangan, ketika kami sebenarnya menemukan banyak saat kehilangan, dan sebaliknya, kehilangan banyak pula saat menemukan?

Apalah arti cinta, ketika kami menangis terluka atas perasaan yang seharusnya indah? Bagaimana mungkin, kami terduduk patah hati atas sesuatu yang seharusnya suci dan tidak menuntut apa pun?

Wahai, bukankah banyak kerinduan saat kami hendak melupakan? Dan tidak terbilang keinginan melupakan saat kami dalam rindu? Hingga rindu dan melupakan jaraknya setipis benang saja.”

Sinopsis

Cerita ini bermula di suatu pagi di pengujung tahun 1938, tepatnya 1 Desember 1938. Tahun 1938 adalah salah satu tahun bersejarah bagi Indonesia yang kala itu masih bernama Hindia-Belanda. Itu merupakan tahun keikutsertaan dalam Piala Dunia di Perancis pertama kali dan sekali-sekalinya. Selain itu, berarti masih tujuh tahun lagi dari tahun kemerdekaan 1945. Di Eropa, Hitler menyerang Austria, yang menjadi benih-benih Perang Dunia II. Di kawasan Asia Pasifik, Jepang dan China terlibat perang besar memperebutkan Kanton dan Shanghai.

Sebuah kapal uap penumpang raksasa bernama BLITAR HOLLAND berlabuh di Pelabuhan Makassar untuk mengangkut calon jama’ah haji dari Indonesia (Hindia Belanda), sepekan sesudah hari raya idul Fitri. Perjalanan yang pada masa sekarang bisa ditempuh dalam hitungan jam menggunakan pesawat terbang, pada masa itu harus ditempuh selama beberapa bulan lewat jalur laut. Di Makassar inilah empat tokoh utama dalam cerita naik. Mereka adalah Gurutta Ahmad Karaeng, Daeng Andipati, Ambo Uleng, dan Bonda Upe. Dapat dikatakan, perhentian di Makassar merupakan titik tolak kisah dalam novel ini.

Gurutta yang merupakan tokoh ulama terkemuka dari Makassar, dari garis keturunan terpuji para ulama Nusantara memerankan tokoh sentral yang disegani oleh para penumpang sekaligus nahkoda kapal, Kapten Phillips. Permasalahan justru timbul dari Sergeant Lucas yang memiliki prasangka buruk terhadap Gurutta semenjak awal. Kemahsyuran nama Gurutta sebagai ulama yang disegani, dengan pengajian rutin yang senantiasa diminati masyarakat, membawa pesan agama yang kuat, menjadi alasan yang tepat bagi serdadu Belanda tersebut untuk menaruh curiga. Kecurigaan akan rencana untuk menghasut para penumpang agar memberikan perlawanan atas penjajahan Belanda.

Ulama yang bijak ini memilih mengesampingkan perlakuan penuh intimidasi dan kesewenangan Sergeant Lucas padanya dan fokus menebarkan kebaikan, bahkan selama dalam perjalanan panjang menuju Tanah Suci. Berkat kepemimpinan Gurutta dan inisiatif bijaknya, berbagai program pengajian, pembelajaran di kapal bagi para penumpang digiatkan. Tak terkecuali bagi penumpang kanak-kanak yang cukup banyak jumlahnya. Meski sempat mengalami penolakan di awalnya, berbagai program tersebut dapat berjalan baik sebagaimana mestinya berkat bantuan Daeng Andipati, Kapten Phillips, Bapak Guru Soerjaningrat, dan Bapak Guru Mangoenkoesoemo, kedua guru ini penumpang yang naik dari pelabuhan Surabaya.

Di Pelabuhan Semarang, naiklah pasangan penumpang lanjut usia, Mbah Kakung Slamet dan istrinya yang sangat mesra. Pasangan yang telah menikah berpuluh tahun itu hendak menunaikan ibadah haji ditemani sang putri sulung. Kisah hidup dan pernikahan mereka menjadi salah satu topik perbincangan yang dinikmati di kapal. Dari pasangan ini pula para penumpang belajar banyak hal tentang kasih sayang dengan pasangan hidup.

Ambo Uleng, pemuda pelaut yang profesi terakhirnya adalah juru mudi kapal Pinisi menjadi salah seorang karakter yang misterius. Kemunculannya di kapal lewat pengajuan diri sebagai awak kapal bahkan telah menarik rasa ingin tahu Kapten Phillips. Pembawaaannya yang pelit bicara, kaku, nyaris tidak pernah tersenyum menambah kemisteriusan tersebut. Namun berkat kebijaksanaan dan rasa ibanya, Kapten Phillips memutuskan menerima meskipun Ambo tak memiliki pengalaman berkaitan dengan pengoperasian kapal uap. Jadilah Ambo diterima sebagai kelasi bagian dapur, dan sekamar dengan Ruben Boatswain.

Tokoh misterius lain adalah Bonda Upe, perempuan bernama asli Ling Ling keturunan Tionghoa yang menyimpan kelamnya masa lalu. Bonda Upe ini tertutup, nyaris tak mau berinteraksi dengan penumpang lain kecuali dalam rangka mengajar mengaji anak-anak. Di dalam perjalanan ini nantinya misteri masa lalu yang tragis itu terkuak, akibat sebuah insiden tak terduga ketika mereka turun berjalan-jalan sejenak di Batavia.

Daeng Andipati, seorang pedagang sukses Makasar yang naik beserta dua putri dan istrinya juga menjadi tokoh sentral dengan rahasia pribadi. Sebuah insiden mematikan di atas kapallah yang akhirnya menguak tabir rahasia itu. Dari dua insiden besar di atas kapal dan satu insiden di luar kapal, Ambo Uleng berperan besar sebagai penyelamat. Dari sinilah hubungan itu terjalin antar tokohnya. Gurutta sebagai tempat bertanya dan mencari petuah atau solusi, dengan tokoh-tokoh lain yang hendak mempertanyakan dilema hati mereka. Hanya saja, ada satu hal yang tidak diketahui para penumpang lain, terkait masalah Gurutta sendiri, yang baginya terbilang pelik dan mendesak untuk dipecahkan.

Kapal haji ini menaikkan penumpang dari sejumlah pelabuhan, sehingga tokoh-tokoh baru bermunculan dari tiap pelabuhan ini.
Kisah perjalanan kapal uap besar ini, dengan kehidupan ‘kecil’ yang berlangsung di dalamnya, konflik yang timbul satu per satu, dan akhir yang sedemikian rupalah yang dituturkan oleh novelis Tere Liye di sini. Lantas, bagaimana akhirnya aneka permasalahan besar maupun kecil itu dituntaskan? Apa klimaks cerita yang disuguhkan? Anda dapat menyimak lengkapnya dengan membaca kisah Rindu ini.

Kelebihan

Blurb yang disajikan di bagian belakang sampul juga amat ‘menggiurkan’, cukup kuat menarik tangan pembaca untuk mengambil novel lantas membelinya ketika melihat di rak toko buku.

Bagi saya pribadi, gaya bahasa Tere Liye bukanlah gaya bahasa yang mengedepankan diksi puitis, sulit dimengerti, atau penuh kosakata yang jarang dipakai.

Diksi pilihannya relatif sederhana, namun dengan sudut pandang pemikiran yang matang, sehingga apa pun tema dan konflik yang diciptakan akan terasa berjiwa dan membekas di hati.

Selain itu, dinamika cerita didapatkan dari suspense yang ditata apik sepanjang alur-plot kisah.

Dialog-dialog dalam kisah Rindu ini pun bernas, kaya hikmah kehidupan. Petuah-petuah, filosofi hidup, sindiran halus bertebaran di sepanjang halaman, dan meski mayoritas dituturkan lewat sosok Gurutta yang memang digambarkan berilmu agama paling tinggi, usia matang, dan bijaksana, namun tak sedikit pula yang terlontar dari bibir tokoh seperti Ambo Uleng yang bahkan baru mulai kembali belajar shalat dan mengaji di atas kapal BLITAR HOLLAND, atau dari bibir mungil Anna.

Novel ini juga cukup kompleks merangkum gambaran kehidupan, pemahaman yang ingin disampaikan penulis

Tere Liye tak lupa juga menyisipkan pentingnya dakwah dan pendidikan semenjak usia belia.
Bahkan, menurut saya, penciptaan setiap karakter dalam kisah ini memang sedemikian apiknya, sehingga masing-masing tokoh memegang peran penting, dan menciptakan keharmonisan, kesatuan cerita yang indah dan sempurna.

Kekurangan.

Tiap karya penulis tak terlepas dari kelemahan, sebagai manusia selalu memiliki celah kekurangan atau kekhilafan. Demikian pula novel ini, yang sayangnya ‘membiarkan’ masih adanya typo, seperti kesalahan pengetikan, kesalahan pemisahan imbuhan menjadi kata sambung, yang bagi penulis sekelas Tere Liye barangkali cukup aneh masih bisa juga terjadi. Namun ‘kesalahan’ kecil ini masih bisa diperbaiki di cetakan selanjutnya yang saya yakin akan hadir.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.